Photobucket

Minggu, 23 Oktober 2011

Persiapan menjadi kaka..

Akhir-akhir ini Raisa jadi rewwelll  banget, ngambek untuk alasan yang gak jelas... huhuhuhu, jadi kadang2 suka ikutan senewen. Kata orang yang udah pengalaman siih, katanya kalo mau punya adik si kaka bakal cemburu, ngerasa gak disayang lagi dan ekstrimnya bisa sampai nyakitin adiknya... ihhh serem juga yah.

Tanya ke mbah google, ketemu sama artikel yang pas banget buat aku.

Menerima kehadiran anggota baru (adik) dan berbagi perhatian lingkungan yang biasanya hanya berpusat pada dirinya merupakan salah satu masa sulit yang harus dilalui seorang anak. Kesiapan mental anak 3 tahun memang masih perlu ditumbuhkan, mengingat pada masa ini kondisi emosionalnya memang masih labil, mudah goyah dan gampang cemas karena adanya tekanan dan perubahan di luar diri anak. Oleh karenanya masalah perilaku lebih sering muncul daripada masalah fisiknya. Misalnya, menunjukkan sikap kepala batu, menjadi bandel, menunjukkan sikap bermusuhan, menjadi lebih cengeng sampai mimpi buruk, tidur sambil berjalan atau mengigau pada malam hari sebagai pelampiasan dari rasa marah, tersisih, cemas, takut, sedih, iri dsb.

Karakteristik Anak
Memahami karakteristik anak sangat diperlukan oleh para orangtua untuk mengantisipasi perubahan-perubahan perilaku terutama yang menjurus ke arah negatif. Orangtua tidak perlu mempercepat perkembangan si sulung dengan akan adanya perubahan status menjadi 'kakak'. Sebab banyak anak-anak pra sekolah yang justru merasa cemas, karena dalam imajinasi mereka menjadi kakak berarti tidak lagi mendapat perhatian dan bantuan tetapi justru bertambah tanggung jawab. Biarkan mereka memahami dan mempelajari situasi secara bertahap akan perubahan perannya.

Tunjukkan Empati
Cobalah berusaha menempatkan diri pada sudut pandang anak. Pahami kecemasannya, yakinkan dengan bahasa yang dimengerti olehnya dan tunjukkan bahwa ia akan tetap mendapatkan perhatian yang sama besarnya, meskipun ada adik nantinya. Perasaan ini seperti perasaan dewasa ketika menghadapi hadirnya orang baru di lingkungannya. Ada perasaan tersaingi, tidak diperhatikan lagi oleh lingkungan, rasa cemas terkalahkan dsb.

Libatkan Anak Mempersiapkan Kelahiran Adik
Sejak dari mempersiapkan pernak-pernik kebutuhan bayi hingga kelahirannya sampai pemilihan nama, libatkan dan mintalah pendapat pada si Sulung. Ajaklah si Sulung berbelanja dan memilihkan baju-baju untuk adiknya. Sesekali ajak pula ke dokter ketika Anda memeriksakan kehamilan untuk memberinya kesempatan mulai memahami kehadiran adiknya. Ceritakan tentang perkembangan bayi sesuai dengan taraf kemampuan bahasa yang dapat ditangkapnya. Biarkan dia mendengar detak jantung adiknya dan mengelus perut Anda sebagai tahap permulaan menjalin hubungan rasa dan menerima kehadiran anggota baru nantinya. Keterlibatan ini akan membuatnya merasa memiliki peran dan tanggung jawab yang berarti dalam menyambut kehadiran adik nantinya.

Libatkan Ayah dan Lingkungan
Peran ayah juga sangat diperlukan dalam mengatasi kecemasan anak. Tunjukkan bahwa kalau nanti mama direpotkan adik, masih ada ayah, nenek, kakek atau tante yang selalu siap membantunya. Lingkungan sangat penting pula perannya untuk mengalihkan perhatian anak dari rasa cemasnya. Waspadai jangan sampai justru menjadi sumber kecemasan yang lain. Seringkali lingkungan memanas-manasi dan memperbandingkan anak. Misalnya, ''Ade nakal sekali sekarang, nanti kalau adiknya lahir, Ade dibuang aja! Komunikasikan kondisi anak kepada lingkungannya dan mintalah pengertian serta bantuannya untuk mengalihkan ketakutannya.

Libatkan dalam Pengasuhan Adik
Untuk awal-awalnya janganlah memaksa anak langsung menerima sepenuh hatinya terhadap kedatangan si anggota baru (adik). Bantulah si Kakak beradaptasi dengan situasi baru dan utamanya menyalurkan perasaan-perasaannya akibat perubahan dan tekanan yang dirasakannya. Misalnya, ''Kakak jadi sering terganggu tidurnya ya, bayi memang sering menangis dan membuat kita repot sehingga sering terbangun di malam hari. Tetapi hanya itu yang baru dapat dilakukannya karena Adik belum bisa bicara seperti kita untuk mengatakan apa yang diinginkannya''. Biarkan Kakak membantu dengan kerelaan hatinya untuk mengambilkan popok atau selimut ataupun mengerjakan tugas-tugas ringan lainnya tanpa perasaan terpaksa.

Dekatkan Diri dan Waktu Khusus untuk Kakak
Merawat bayi memang melelahkan dan sering secara tidak sadar kita mengabaikan si Sulung. Usahakan nanti mengatur waktu untuk memperhatikan dia seperti saat sebelum ada adiknya. Berikan waktu khusus barang 1-2 jam untuk memperhatikan kakak, dan sementara 'titipkan' adik pada pengasuh atau neneknya. Ini untuk meyakinkannya bahwa ibu tetap mencintainya sehingga rasa ketakutan kehilangan perhatian dan mungkin iri hati dengan kehadiran adik tidak berkobar di hatinya.
Perlu kita sadari bahwa persaingan antarsaudara (Sibling Rivalry) ini merupakan hal yang wajar dan perlu dirasakan anak. Kompetisi adalah hal yang akan dihadapi anak dalam kehidupannya kelak, jadikan 'kompetisi' di rumah sebagai persiapan proses sosialisasi dan melatih kemampuan beradaptasi dalam menghadapi kompetisi yang lebih berat di luar rumah nantinya. Bukalah matanya agar mulai memahami pentingnya makna persaudaraan dan berbagi kasih dengan orang lain. Bantu anak melihat sisi terang dari makna hubungan kakak-adik. Kasih sayang dan bimbingan orangtua serta bertambahnya usia anak akan membawa kesadaran bahwa ia menjadi bagian dari suatu keluarga dan memperhatikan orang lain ternyata merupakan hal yang sangat bermakna.
Mendengar cerita Ibu tentang si kecil yang cukup komunikatif, sosialitatif dan adaptif, kelihatannya tidak ada hal yang perlu dicemaskan.

Menerima kehadiran anggota baru (adik) dan berbagi perhatian lingkungan yang biasanya hanya berpusat pada dirinya merupakan salah satu masa sulit yang harus dilalui seorang anak. Kesiapan mental anak 3 tahun memang masih perlu ditumbuhkan mengingat pada masa ini kondisi emosionalnya memang masih labil, mudah goyah dan gampang cemas karena adanya tekanan dan perubahan di luar diri anak. Oleh karenanya masalah perilaku lebih sering muncul daripada masalah fisiknya. Misalnya, menunjukkan sikap kepala batu, menjadi bandel, menunjukkan sikap bermusuhan, menjadi lebih cengeng sampai mimpi buruk, tidur sambil berjalan atau mengigau pada malam hari sebagai pelampiasan dari rasa marah, tersisih, cemas, takut, sedih, iri dsb.


Hmmm, ternyata bukan cuma mental siibu aja yang perlu disiapin... mental calon kaka juga gak kalah pentingnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar